Seminar Publik di SMAS K Pancasila Borong: Membangun Pendidikan yang Memerdekakan, Tanpa Penghakiman dan Ancaman
- Rabu, 14 Oktober 2026
- Administrator
- 0 komentar
SMAPAN, 10 Oktober 2026 — SMAS K Pancasila Borong menggelar seminar publik dengan Judul DINAMIKA POLITIK NASIONAL DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN INDONESIA bersama Bapak Frans Jalong, seorang akademisi sekaligus putra Borong, Manggarai Timur. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi intelektual bagi para pendidik dan peserta didik untuk melihat kembali praktik pendidikan, khususnya dalam membangun lingkungan belajar yang aman, kolaboratif, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk bertumbuh dan berkembang.
Kegiatan diawali dengan penyambutan narasumber melalui prosesi Tiba Meka, sebuah tradisi penyambutan tamu dalam budaya Manggarai yang dipersembahkan oleh Sanggar Bengkes Nai SMAPAN. Prosesi tersebut semakin semarak dengan pagar betis oleh para siswa-siswi SMAS K Pancasila Borong sebagai bentuk penghormatan kepada narasumber dan seluruh tamu undangan.
Seminar publik ini dihadiri oleh Koordinator Pengawas (Korwas) Manggarai Timur, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), para kepala sekolah, bapak dan ibu guru dari sekolah lain, serta tamu undangan lainnya.
Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa pembukaan. Selanjutnya, MC Kaka Viola memberikan kesempatan kepada Koordinator Pengawas Manggarai Timur untuk menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa seminar semacam ini sangat penting bagi dunia pendidikan karena dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan seluruh civitas akademika.
Menurutnya, orang yang terus belajar adalah orang yang mengenal dirinya dan memahami arah masa depannya. Oleh karena itu, kegiatan intelektual seperti seminar publik perlu mendapat ruang dalam dunia pendidikan sebagai sarana memperluas perspektif dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala SMAS K Pancasila Borong, RD. Pankrasius Wahu Nudan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih kepada narasumber, Bapak Frans Jalong, atas kesempatan berharga yang diberikan kepada keluarga besar SMAS K Pancasila Borong untuk belajar dan berefleksi bersama.
Beliau memandang kegiatan tersebut sebagai rahmat dan sukacita bagi satuan pendidikan. Harapannya, kegiatan intelektual semacam ini dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran di SMAS K Pancasila Borong.
Suasana semakin meriah dengan penampilan solo vokal dari siswa SMAPAN Kaka Avatar dan Akri, yang merupakan bagian dari band SMAPAN. Penampilan mereka dengan suara yang indah memberikan hiburan tersendiri bagi para tamu undangan sebelum memasuki sesi inti seminar.
Pendidikan yang Memberi Ruang bagi Murid untuk Bertumbuh
Sesi seminar dipandu oleh RD. Pankrasius Wahu Nudan selaku moderator. Dalam pemaparan materinya, Bapak Frans Jalong, yang juga dikenal dengan sapaan Pak Viki, mengajak para peserta untuk merefleksikan kembali model pendidikan yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang tanpa harus berhadapan dengan penghakiman maupun ancaman.
Beliau menyoroti kebiasaan dalam dunia pendidikan yang masih berpotensi menempatkan murid sebagai pihak yang selalu disalahkan ketika menghadapi kesulitan. Menurutnya, apabila kebiasaan menghakimi terus dipertahankan, peran guru sebagai pendidik dapat kehilangan makna. Guru juga tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap peserta didik.
Situasi yang dialami murid di sekolah, lanjutnya, tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi dan praktik pendidikan yang mereka alami setiap hari. Karena itu, pendidik perlu membangun relasi yang lebih manusiawi, menghargai perbedaan, serta memberi kesempatan kepada murid untuk menyampaikan pikiran dan pertanyaan mereka.
Dalam paparannya, Pak Viki juga menguraikan tiga bentuk kekerasan yang perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan.
Pertama, kekerasan struktural, yakni kekerasan yang berkaitan dengan struktur atau sistem yang dapat melanggengkan ketidakadilan, termasuk ketika kewenangan dalam lingkungan pendidikan digunakan secara tidak tepat.
Kedua, kekerasan simbolik, yang dapat hadir melalui prasangka, stigma, pelabelan, atau cara pandang yang merendahkan seseorang. Hal ini dapat terjadi dalam relasi guru dan murid maupun sebaliknya.
Ketiga, kekerasan fisik, yaitu tindakan kekerasan yang melibatkan kontak fisik, seperti pemukulan.
Menurut beliau, apabila berbagai bentuk kekerasan tersebut hadir dalam lingkungan pendidikan, tujuan pendidikan akan sulit tercapai secara utuh. Padahal, pendidikan seharusnya membantu manusia menemukan harapan, mengembangkan potensinya, dan mempersiapkan masa depannya.
Pak Viki juga menegaskan bahwa kecerdasan tidak semata-mata diukur dari kemampuan seseorang menjawab pertanyaan, tetapi juga dari keberaniannya mengajukan pertanyaan, menguji pemikiran, dan mempertanyakan suatu pandangan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, keberanian berpikir kritis dari peserta didik perlu difasilitasi, bukan dibungkam.
Kolaborasi Guru dan Murid dalam Pembelajaran
Lebih lanjut, narasumber menekankan pentingnya metode pengajaran yang mampu mendorong munculnya pertanyaan dan partisipasi aktif dari peserta didik. Proses pembelajaran tidak seharusnya hanya menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan murid sebagai penerima informasi secara pasif.
Sebaliknya, pembelajaran perlu dibangun melalui kolaborasi antara guru dan murid. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing, mengarahkan, dan menciptakan kondisi agar peserta didik dapat mengembangkan potensi serta kemampuan berpikir kritisnya.
Pola pembelajaran kolaboratif memungkinkan guru dan murid saling belajar, berdialog, serta melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran. Dengan demikian, kualitas proses pendidikan diharapkan semakin baik dan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir mandiri, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.
Pertanyaan Kritis Siswa: Ketika Guru Menjadi Penyulut Api
Setelah kurang lebih satu jam pemaparan materi, seminar dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta tampak antusias menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan pengalaman yang berkaitan dengan persoalan pendidikan.
Salah satu pertanyaan menarik datang dari Reinhart, seorang siswa yang mengangkat persoalan tentang posisi guru sebagai fasilitator dan murid sebagai komponen utama dalam proses pembelajaran.
Ia mengibaratkan guru sebagai penyulut api dan murid sebagai bahan bakarnya. Melalui analogi tersebut, Reinhart mempertanyakan bagaimana seharusnya seorang guru bersikap ketika murid belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Ia juga menyoroti persoalan ketika kritik atau perbedaan pendapat dari siswa justru dipandang sebagai bentuk perlawanan, bahkan dikaitkan dengan regulasi yang dirasakan sebagai ancaman.
Reinhart kemudian mempertanyakan apakah regulasi internal yang mengatur hubungan guru dan murid dapat membantu meminimalkan persoalan tersebut, terutama ketika kritik siswa belum sepenuhnya diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Menanggapi pertanyaan itu, Pak Viki menegaskan bahwa guru tidak boleh menjadikan kesulitan siswa sebagai alasan untuk menghakimi, mempermalukan, atau mematahkan semangatnya. Ketegasan memang penting dalam mendidik dan membantu murid bertumbuh, tetapi ketegasan tersebut tidak boleh membuat murid merasa terintimidasi atau hidup dalam ketakutan.
Jawaban tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan pendekatan yang manusiawi. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mendisiplinkan murid, tetapi proses itu harus dilaksanakan dengan menghormati martabat peserta didik serta membuka ruang bagi dialog dan perbaikan.
Pertanyaan Reinhart menjadi salah satu momen reflektif dalam seminar ini. Keberanian siswa mengajukan pertanyaan kritis memperlihatkan bahwa peserta didik bukan sekadar penerima materi, melainkan juga individu yang memiliki pemikiran, pengalaman, dan kepedulian terhadap kualitas pendidikan yang mereka alami.
Diskusi semakin dinamis ketika sejumlah tamu undangan turut menyampaikan pertanyaan dan tanggapan. Meskipun berlangsung dengan antusiasme tinggi, suasana diskusi tetap terjaga dalam kondisi kondusif dan penuh penghargaan terhadap perbedaan pandangan.
Pendidikan sebagai Ruang untuk Bertumbuh dan Berharap
Seminar publik di SMAS K Pancasila Borong ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang penyampaian materi, penegakan aturan, atau pencapaian hasil akademik. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses membangun manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, keberanian berpikir, dan harapan akan masa depan.
Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menciptakan ruang yang memungkinkan peserta didik bertanya, berpendapat, melakukan kesalahan, belajar, dan memperbaiki diri. Sementara itu, murid perlu terus mengembangkan tanggung jawab, sikap saling menghormati, serta keberanian menyampaikan gagasan secara santun dan argumentatif.
Kegiatan seminar publik ini berakhir tepat pukul 12.00 WITA. Diharapkan, melalui kegiatan ini dapat memberikan inspirasi bagi para pendidik dan peserta didik untuk bersama-sama membangun budaya pendidikan yang lebih dialogis, kolaboratif, adil, dan memanusiakan manusia. “Mau bertumbuh dan berkembang itu dari diri sendiri, Mau menjadi orang baik harus bisa dari diri sendiri. Sekian**
Pendidik,
Maria Papu
Artikel Terkait
SMAS K Pancasila Borong Gelar Pembukaan Bulan Bahasa 2026, Siswa Diajak Aktif dalam Berbagai Perlombaan
Kamis, 15 Oktober 2026
SMAS K PANCASILA BORONG GELAR STUDY TOUR KE SMAS K REGINA PACIS BAJAWA: MEMPERKUAT KOLABORASI, BERBAGI PRAKTIK BAIK, DAN MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
Selasa, 13 Oktober 2026
Semarak BKSN 2026 di SMAS K Pancasila Borong “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius”
Selasa, 06 Oktober 2026
Bimbingan Teknis Sistem Penjamin Mutu (SPMI) Satuan Pendidikan Pemanfaatan Dana BOS Kinerja Terbaik Tahun 2026
Selasa, 22 September 2026
Bangunan Sekolah Rusak dan Tak Layak Digunakan, SMAS Katolik Pancasila Borong Pasang Garis Polisi
Kamis, 17 September 2026