Di Balik Besi Berkarat dan Tali Rafia, Ada Mimpi Anak-Anak yang Menunggu Dijaga
- Senin, 02 Maret 2026
- Sma Pancasila Borong Gerbang
- Administrator
- 0 komentar
Setiap pagi, V selalu datang lebih awal ke sekolah. Siswi kelas XII itu punya kebiasaan sederhana: berdiri sebentar di depan halaman, merapikan rok, memastikan pita rambutnya terpasang rapi, lalu melangkah masuk dengan senyum.
Namun dua tahun terakhir, langkah itu selalu melewati sesuatu yang mengganjal di hati.
Gerbang sekolahnya tak lagi berdiri.
Di depan SMA Swasta Katolik Pancasila Borong, yang terlihat hanyalah beberapa batang besi tua yang disandarkan dan diikat dengan tali rafia. Bekas rangka gerbang lama yang pernah kokoh kini menjadi penutup darurat. Jika angin berembus kencang, ikatannya bergoyang. Jika hujan turun, karat semakin jelas menggerogoti sisa-sisanya.

“Kalau teman dari sekolah lain lewat, saya kadang merasa malu,” ujar V pelan. “Kami punya gedung baru yang bagus. Tapi bagian depan sekolah seperti belum selesai.”
Gerbang itu digusur pada 2024 untuk memberi jalan bagi alat berat saat pembangunan gedung baru dimulai. Semua pihak mendukung. Gedung baru adalah simbol kemajuan. Ruang belajar yang lebih layak adalah harapan bagi masa depan.
Namun setelah proyek rampung, gerbang itu tak kunjung kembali.
Kini, Februari 2026, siswa-siswi masih melangkah melewati penutup sementara yang sama.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya soal infrastruktur. Tapi bagi anak-anak, itu menyentuh rasa aman dan kebanggaan.
“Kalau sore hari dan sekolah sudah sepi, rasanya seperti halaman terbuka begitu saja,” kata seorang siswa kelas X. “Kami ingin sekolah kami terlihat seperti sekolah yang dijaga.”
Seorang guru yang telah lama mengabdi menuturkan,
“Anak-anak ini punya mimpi besar. Mereka pantas masuk ke sekolah melalui gerbang yang layak. Gerbang bukan sekadar besi, tapi simbol bahwa mereka dihargai.”
Ironinya, di dalam halaman berdiri gedung baru yang megah dan kokoh. Catnya masih bersih. Kelas-kelasnya lebih terang. Namun wajah depan sekolah justru menyisakan kekosongan.
Orang tua siswa pun merasakan kegelisahan yang sama.
“Kami percaya sekolah ini mendidik anak-anak kami dengan hati. Tapi sebagai orang tua, tentu kami ingin keamanan juga diperhatikan,” ujar salah satu wali murid.

Tulisan ini merupakan harapan. Ini adalah suara kecil dari halaman sekolah yang setiap hari dipenuhi tawa dan cita-cita.
Karena di balik besi berkarat dan tali rafia itu, ada anak-anak yang sedang belajar tentang masa depan. Ada siswa kelas XII yang akan segera lulus dan mungkin tak pernah merasakan kembali gerbang yang berdiri tegak. Ada siswa kelas X yang baru memulai perjalanan dan berharap melihat sekolahnya utuh dan terjaga.
"semoga ada donatur yang bantu buat gerbang sekolah. sekolah ini ada di tengah kota Borong" kata seorang Siswa.
Mereka tidak meminta yang mewah.
Mereka hanya ingin pintu masuk yang pantas bagi tempat mereka bermimpi.
@U.S