You need to enable javaScript to run this app.

Dua Puluh Satu Tahun di Ujung Bel Sekolah

Dua Puluh Satu Tahun di Ujung Bel Sekolah

Pagi di SMA Swasta Katolik Pancasila Borong selalu dimulai dengan suara bel yang nyaring. Namun, bahkan sebelum bel itu berbunyi, ada satu sosok yang hampir pasti sudah berada di lingkungan sekolah. Langkahnya tenang, wajahnya teduh, tasnya tergenggam rapi. Dialah Ibu Dorty Wilti—guru yang selama dua puluh satu tahun tidak hanya mengajar, tetapi menanamkan makna tentang disiplin dan integritas.

Tak banyak yang menyadari, bahwa kehadiran yang konsisten adalah bentuk cinta yang paling sederhana sekaligus paling sulit dijaga. Setiap hari, tanpa kecuali, Ibu Dorty datang tepat waktu. Bukan karena takut ditegur, bukan pula demi sekadar memenuhi kewajiban administratif. Ia datang karena percaya bahwa waktu adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pendidik.

Ruang kelas menjadi saksi ketegasannya. Ketika jam pelajaran dimulai, tidak ada toleransi untuk kelalaian. Buku harus terbuka. Tugas harus selesai. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kelembutan yang membuat siswa merasa dihargai. Ia tidak pernah membentak untuk menjatuhkan, melainkan menegur untuk membangun. Ia tidak pernah memarahi tanpa memberi jalan keluar.

Ribuan alumni telah melewati ruang kelasnya. Nama-nama mereka kini tersebar di berbagai kota, berbagai profesi, berbagai jenjang kehidupan. Ada yang menjadi guru, perawat, pegawai negeri, pengusaha, bahkan pemimpin di tengah masyarakat. Tetapi ketika nostalgia tentang masa SMA dibuka, cerita tentang Ibu Dorty selalu muncul dengan nada yang sama: hormat dan rindu.

“Ibu itu cantik, tapi bukan hanya wajahnya,” kata seorang alumni suatu ketika. “Yang paling kami ingat adalah ketegasannya. Ia membuat kami takut terlambat, tetapi juga takut mengecewakan.”

Dua puluh satu tahun bukan angka kecil. Itu berarti lebih dari tujuh ribu hari perjalanan pulang-pergi ke sekolah. Itu berarti ribuan jam berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, memeriksa tugas, mengisi rapor, menghadiri rapat, dan mendampingi siswa yang sedang bingung menentukan arah hidupnya.

Di balik pengabdian sepanjang itu, gaji yang diterima tak pernah menyentuh angka dua juta rupiah. Sebuah nominal yang mungkin membuat sebagian orang memilih jalan lain. Namun tidak bagi Ibu Dorty.

Ia tetap bertahan.

Bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena ia memilih setia.

Dalam setiap momen krusial sekolah—ujian akhir, akreditasi, kegiatan besar, atau ketika ada persoalan siswa yang memerlukan kebijaksanaan—kehadirannya seperti penyeimbang. Ia tidak banyak bicara, tetapi ketika berbicara, kalimatnya tegas dan menenangkan. Rekan kerja menghormatinya. Siswa menaruh segan. Pimpinan sekolah mempercayainya.

Pernah suatu hari ia berhalangan hadir. Hanya sehari. Tetapi suasana terasa berbeda. Siswa bertanya-tanya, “Ibu tidak masuk?” Rekan guru merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan. Dari situ orang-orang menyadari: kehadiran yang selama ini dianggap biasa ternyata adalah fondasi.

Integritasnya tidak pernah goyah. Ia tidak mencari perhatian, tidak mengejar pujian, dan tidak menuntut pengakuan. Ia hanya menjalankan tugasnya dengan standar yang sama dari tahun ke tahun. Konsisten. Teguh. Bersih.

Di zaman ketika banyak orang mudah berpindah demi keuntungan yang lebih besar, Ibu Dorty memilih jalan sunyi pengabdian. Ia menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Bahwa mendidik bukan tentang berapa besar gaji, tetapi tentang seberapa besar komitmen untuk membentuk karakter generasi.

Kini, setelah dua puluh satu tahun berlalu, mungkin tidak ada piagam emas yang digantungkan di dinding khusus atas namanya. Tidak ada panggung megah yang selalu menyebutnya sebagai tokoh utama. Namun jejaknya hidup dalam sikap disiplin para alumninya. Dalam keberanian mereka mengambil keputusan. Dalam integritas yang mereka pegang di tempat kerja masing-masing.

Sekolah bukan hanya tentang gedung dan kurikulum. Sekolah adalah tentang manusia-manusia yang setia berdiri di dalamnya, hari demi hari, bahkan ketika lelah dan keterbatasan menjadi teman seperjalanan.

Dan di antara manusia-manusia itu, nama Ibu Dorty Wilti akan selalu dikenang sebagai guru yang tidak pernah terlambat—datang tepat waktu, pulang tepat waktu, dan mengabdi dengan sepenuh waktu.

Karena sejatinya, pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hidup, bertumbuh, dan berbicara melalui generasi yang dibentuknya.

 

@ U. S

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

RD. Pankrasius Wahu Nudan, S.Fil.,M.Th.,M.Han

- Kepala Sekolah -

SALAM DAN SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMAS KATOLIK PANCASILA BORONG

Berlangganan
Banner