You need to enable javaScript to run this app.

Berhenti Sejenak, Agar Guru Tidak Kehilangan Hati di Tengah Lelah

Berhenti Sejenak, Agar Guru Tidak Kehilangan Hati di Tengah Lelah

Isu pendidikan di Indonesia kerap berpusat pada kurikulum, digitalisasi, dan capaian akademik. Namun ada satu aspek fundamental yang sering terabaikan: kesehatan mental dan kejernihan emosional para guru dan kepala sekolah.

Di banyak sekolah , tekanan kerja tidak hanya datang dari ruang kelas. Guru dihadapkan pada beban administratif yang terus bertambah, target institusi, tuntutan akuntabilitas, dinamika relasi internal, hingga persoalan kesejahteraan yang tidak selalu stabil. Kepala sekolah pun berada dalam posisi yang tidak kalah sulit—menjembatani kepentingan, menjaga stabilitas internal, sekaligus memastikan mutu pendidikan tetap terjaga.

Dalam situasi seperti ini, kelelahan bukan lagi persoalan individual, melainkan persoalan sistemik.

Kelelahan yang berkepanjangan berdampak langsung pada kualitas pengambilan keputusan. Guru yang kelelahan cenderung lebih reaktif dalam menghadapi siswa. Rapat-rapat internal mudah berubah menjadi ajang defensif. Keputusan penting diambil dalam suasana emosional yang belum sepenuhnya stabil. Pada titik tertentu, yang terkikis bukan hanya energi, melainkan kejernihan nurani.

Di sinilah urgensi kesadaran reflektif menjadi relevan.

Mindfulness sebagai Kompetensi Kepemimpinan Pendidikan

Dalam kajian psikologi modern, praktik mindfulness diperkenalkan secara luas oleh Jon Kabat-Zinn melalui pendekatan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR). Intinya sederhana: menghadirkan kesadaran penuh pada pengalaman saat ini tanpa reaksi impulsif atau penilaian berlebihan.

Dalam konteks pendidikan, mindfulness bukan sekadar teknik relaksasi. Ia merupakan fondasi kepemimpinan yang matang. Guru dan kepala sekolah yang mampu menyadari kondisi emosinya sebelum bertindak akan lebih bijak dalam merespons konflik, kritik, maupun tekanan eksternal.

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pembentukan manusia. Maka, kualitas emosi dan kesadaran pendidik tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Teknik STOP: Sederhana, Namun Strategis

Salah satu bentuk praktis mindfulness yang relevan diterapkan di lingkungan sekolah adalah teknik STOP:

  • Stop — berhenti sejenak sebelum merespons. Memberi jeda sebelum merespons situasi yang memicu tekanan emosional. Jeda ini penting untuk mencegah respons impulsif yang berpotensi memperburuk keadaan.
  • Take a Breath — mengatur napas untuk menstabilkan emosi.  Mengambil napas dalam secara perlahan untuk membantu menstabilkan sistem saraf dan mengurangi ketegangan emosional.
  • Observe — mengamati pikiran dan perasaan secara objektif. Mengidentifikasi secara objektif pikiran, emosi, dan situasi yang sedang dihadapi, tanpa langsung memberikan penilaian atau reaksi defensif.
  • Proceed — melanjutkan tindakan dengan kesadaran dan pertimbangan rasional. Mengambil tindakan atau keputusan secara sadar, berdasarkan pertimbangan rasional, etis, dan empatik.

Dalam dinamika institusi pendidikan yang kompleks, jeda singkat sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang bijaksana dan keputusan yang disesali. Teknik ini dapat diterapkan dalam forum rapat, penyelesaian konflik internal, maupun interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

Langkahnya sederhana, tetapi dampaknya strategis.

Pendidikan yang Sehat Dimulai dari Pendidik yang Sehat

Sering kali perdebatan tentang mutu pendidikan terjebak pada instrumen teknis: standar kurikulum, sarana prasarana, dan capaian numerik. Padahal, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh stabilitas psikologis para pendidiknya.

Guru yang mengalami kelelahan emosional kronis berisiko kehilangan empati, kesabaran, dan ketajaman refleksi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi budaya sekolah secara keseluruhan.

Karena itu, institusi pendidikan—terutama sekolah swasta—perlu mulai mengintegrasikan praktik-praktik yang mendukung kesehatan mental tenaga pendidik. Memberi ruang refleksi dalam rapat, membangun budaya komunikasi yang tidak reaktif, serta mengakui batas kemanusiaan guru adalah langkah-langkah konkret yang dapat ditempuh.

Menguatkan sistem tanpa menguatkan manusianya hanya akan menghasilkan ketahanan semu.

Menata Ulang Prioritas

Profesi guru menuntut kecakapan intelektual sekaligus kematangan emosional. Dalam tekanan yang semakin kompleks, kemampuan untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan mengambil keputusan secara sadar bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan profesional.

Mindfulness dan teknik STOP bukan solusi tunggal atas persoalan struktural pendidikan. Namun keduanya dapat menjadi pagar etis dan psikologis agar keputusan-keputusan penting tetap lahir dari kejernihan, bukan sekadar reaksi.

Jika pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh, maka sistem pendidikan pun harus memberi ruang bagi pendidiknya untuk tetap utuh—secara pikiran, emosi, dan nurani.

 

editor : U.S

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

RD. Pankrasius Wahu Nudan, S.Fil.,M.Th.,M.Han

- Kepala Sekolah -

SALAM DAN SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMAS KATOLIK PANCASILA BORONG

Berlangganan
Banner